Kamis, 07 Juli 2011

kumpulan cerpen

DI SISA HIDUPKU
Kisah ini berawal setelah aku menikah 6 tahun yang lalu. Aku Arman. Aku hidup sebatang kara sekarang. Istriku meninggal 4 bulan yang lalu sedangkan anakku hidup diasuh oleh mertuaku. Aku melamu mencoba mengingat ingat semua kejadian yang pernah ku alami.
Dulu aku hidup hanya dengan ayahku. Karena ibuku meninggal saat melahirkanku.aku satu-satunya anak dikeluargaku dengan kata lain aku adalah anak tunggal. Ayahku adalah seorang pekerja keras yang tak mengenal kata mengeluh. Beliau selalu mengajarkan hidup sederhana.walaupun hanya buruh tani beliau tak pernah menyesali hidup ini. Ya. Beliau adalah guru pribadiku sekaligus sumber inspirasiku. Tetapi aku tak bisa berlama- lama menemani ayah. Karena ayah dipanggil sang khaliq untuk menemani ibuku di surga. Padahal saat itu genap umurku yang ke 20 tahun. Sedih rasanya. Air matapun tak bisa terbendung lagi. Bayangkan beliau satu-satunya orang yang ku punya.dengan siapa lagi aku harus hudup? Dengan siapa aku bercerita,bercanda dan berbagi? Berminggu minggu aku mengurung diri di kamar.semua sanak saudaraku bingung bagaimana cara menghiburku. Aku sendiri bingung bagaimana kelanjutan hidupku ini. Akhirnya aku putuskan untuk merantau dan rumah ku serahkan kepada pamanku,adik kedua dari ayahku. Yang pada saat itu pamanku baru menikah sehingga belum punya rumah sendiri. Sehingga mereka bisa leluasa mengurus rumahku selama aku pergi . Bimbang hatiku saat meninggalkan rumah dan sanak saudaraku. Tapi bagaimana lagi. Didesaku sulit sekali untuk mencari kerja. Sedangkan aku hanya lulusan SMA. Aku juga butuh uang untuk hidup. Tak cukup bila hanya mengandalkan peninggalan dari orang tuaku. Aku merantau jauh ke pulau seberang. Tepatnya di pulau Jawa.
Akhirnya sampai juga di tempat tujuanku yaitu kota Surabaya. Kota pahlawan yang terkenal dengan bonek dan jembatan merahnya. Disini aku mulai menyusuri jalan yang berdebu untuk mencari sesuap makanan. Terik matahari seakan ingin menemaniku kemanapun berada. Panas,haus dan gerah itulah yang kurasakan. Tapi aku tak boleh menyerah. Akhirnya aku putuskan untuk mencari kontrakan dulu. Pastinya yang sebanding dengan kantongku. Akupun mendapatkan kontrakan dengan biaya 150 ribu perbulan. Cukup murah untuk orang disini tapi cukup mahal untukku. Tapi mau bagaimana lagi itu sudah yang termurah yang ku jumpai setelah seharian megukur jalanan di kota ini. Tak apalah walaupun tempatnya kecil dan sedikit agak kotor. Tapi aku kan berusaha merubahnya. Setelah istirahat beberapa menit akhirnya aku berangkat membersihkan dan membereskan kontrakanku. Tak terasa dua jam sudah terlewat. Benar-benar melelahkan hari ini.
Keesokan harinya aku mulai berjalan mencari makan. Untungnya ada warung kecil di sebelah kontrakanku jaraknya haya 50 meter. Aku berbincang-bincang cukup lama dan tak lupa aku memperkenelkan diri. Beliau namanyadari dialah aku mendapatkan kerja jadi kuli bangunan pembuatan jalan tol. Tidak apa bagiku yang penting halal. Itupun juga untuk menyambung hidup disini. Akupun lama-kelamaan juga terbiasa dengan panas terik dan debu yang menyepa. Karena itulah temanku sekarang.
Enam bulan sudah aku hidup di kota ini. Tak terasa sekali. Kayaknya baru kemarin ku injakkan kaki disini. Aku sekarang juga bisa membeli handphone sendiri dari uang tabunganku selama disini. Bulan depan aku ingin membelikan untuk pamanku. Akan ku kirim kesana agar aku bisa mengabarinya dan memberitahukan keadaanku disini. Suatu hari ada sms nyasar di hp ku. Akupun juga berkenalan dengannya. Namanya Ratih. Nama yang indah menurutku. Setelah 5 bulan kenal via sms baru aku berani jumpa darat dengannya. Kami memilih bertemu di taman bungkul. Kesan pertama yang aku tangkap darinya adalah dia wanita yang lugu dan manis. Dengan malu-malu kujabat tangannya. Bahkan ia tak berani melihatku. Entah karena aku jelek atau karena malu. Perkenalanpun berlanjut dan akhirnya ia jadi pacarku. 2 tahun aku jalani hidup bersamanya. Aku tak merasa sepi lagi. Aku senang sekali karena ia dapat menerima semua keadaanku. Dia tempat untuk mencurahkan semua cerita hidupku. Akupun mantap untuk meminangnya setelah pacaran selama 3 tahun. Sebelum pernikahan dimulai aku sempatkan kembali ke tanah kelahiranku. Sekedar memberitahu sanak saudara dan ziarah ke makam ayahku. Aku ceritakan semua yang ku alami di perantauan diatas makam ayahku. Aku ingin membagi semua cerita ke tokoh panutanku itu. Tak terasa air mata berlomba-lomba mengalir menelusuri raut pipiku yang kasar. Waktuku tak banyak untuk ayah. Maafkan aku ayah. Aku harus kembali tak lupa ku bawa paman. Karena dia yang kutunjuk sebagai saksi pernikahanku.
Akhirnya aku menikah juga dengan wanita pujaanku. Senang sekali rasanya. Walaupun acaranya sederhana tapi takkan kulupakan seumur hidupku. Akupun mengantar paman ke bandara untuk pulang ke kampung halaman. Setahun kemudian akumenjadi ayah.begini ternyata jadi ayah. Saat pulang kerja penat hilang bila melihat anakku. Dia lucu sekali. Aku sangat menyayanginya. Hari terus berganti tahun berrganti tahun tak terasa anakku akan masuk SD. Kelihatannya dia senang sekali karena ia akan masuk sekolah. Tapi dari sinilah suatu masalah bermunculan silih berganti. Seakan-akan tak ada celah yang memisahkan. Untuk masuk SD aku harus merogoh kocek dalam-dalam. Maklum aku tinggal di kota besar,istriku hanya seorang ibu rumah tanga dan biaya kontrakan rumah juga menunggak. Sedih dan pusing itulah yang kurasakan. Uang gajiku tak mampu mendaftarkan anakku. Terpaksa aku pinjam uang ke teman untuk biaya daftar sekolah juga bayar kontrakan. 10 juta yang harus ku lunasi selama 5 bulan. Akhirnya lega juga aku bisa menyekolahkan anakku. Aku juga bisa melunasi hutangku. Tetapi suatu masalah datang lagi. Aku mencium gerak-gerik yang mencurigakan dari istriku. Kata anakku selalu ada lelaki lain yang menginap dirumah saat aku kerja. Ya. Istriku main serong dibelakangku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menegurnya. Karena ia satu-satunya orang yang kupunya. Aku tak mau kehilangannya. Aku anggap aja itu sebuah penguji kesabaranku. Ku dengar juga istriku dapat uang dari lelaki itu. Pantas istriku dapat membeli perhiasan emas. Sakit dan sedih melihat istriku memakainya. Aku tak bisa membelikan untuknya. Istriku sekarang mulai berubah. Dia sering mengeluh karena uangku tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Maafkan aku istriku aku gagal sebagai seorang suami. Aku berinisiatif untuk mencari kerja sampingan yaitu mengojek. Tetapi tak cukup juga menurut istriku. Lalu istriku memutuskan untuk menjadi TKW. Tetapi aku tak mengizinkan. Anakku masih kelas 3 SD itu pertimbangan pertamaku. Pertimbangan kedua iyalah keslamatan istriku disana. Aku sangat mengkhawatirkan dan tak ingin berjauhan. Tetapi istriku tetap keras kepala. Akupun hanya bisa berdoa disini.
Sudah setahun istriku bekerja tetapi tak ada kabar juga. Ku tanyakan ke PT yeng memberangkatkan dibilangnya baik-baik saja. Lalu tahun kedua istriku mengirim uang dalam jumlah yang banyak. ia juga rajin memberitahukan keadaannya disana. Senang karena ia baik-baik sja tapi sedih dan kangen karena lama tak berjumpa. Tahun ketiga ada sebuah musibah yang menimpanya. Ia dituduh mencuri sehingga majikannya menyiksa dirinya. Sedih sekali dan yang palingh kusedihkan ia pulang tanpa nyawa. Sudah tak bisa ku tahan air mataku. Aku menangis sajadi-jadinya ketika melihat jenazah istriku. Tangannya memutih dan dingin. Aku sedih sekali. Hilang sudah semangat hidupku. Aku kehilangan orang yang kucintai untuk kedua kalinya. Anakku satu-satunya yang bisa memberikan semangat untukku. Tahun ini ia akan masuk SMP aku harus mengumpulkan uang untuk biaya masuk sekolah. Masalah datang lagi. Mertuaku memaksa anakku untuk tinggal bersama mereka. Maklum aku dianggap orang yang gagal sebagai kepala rumah tangga dansemua itu memang benar. Aku bersikeras mempertahankan anakku tetapi apa dayaku aku hanyalah orang miskin yang tak punya apa-apa. Mungkin anakku akan lebih bahagia bila hidup dengan mertuaku. Biarlah aku menyusuri hidupku sendiri. Menghabiskan seluruh sisa hidupku.

0 komentar:

Poskan Komentar